Rabu, 25 Maret 2015

Perpustakaan Nasional, It is a Wonderful library



Perpustakaan Nasional tampak dari depan
Liburan weekend kemarin, Kami bersepuluh ada Aku, Maryam, Hana, Ririn, Desi, Faiz, Bastian, Kunto, Fajar dan Yeni backpackeran ke Jakarta. Selain mencari pengalaman, kami juga mencari ilmu. Salah satu tempat dari beberapa tempat yang aku kunjungi adalah perpustakaan Nasional di Jalan Salemba. Kami menuju ke sana mengendarai sebuah kereta yang bernama “Gaya Baru” dengan sangat bahagia bersaa – sama. Perpustakaan Nasional merupakan tempat yang ketiga dari berbagai tempat yang telah kami kunjungi. Kami menaiki bis Trans Jakarta untuk ke Perpustakaan Nasional, kami sampai di sana ketika pukul jam 12 siang.  Akhirnya bisa mengunjungi juga tempat di mana sering disebut – sebut dalam buku bahkan dosen – dosen. 
Pintu masuk Perpustakaan Nasional
Di perpusnas mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan perpustakaan yang lain, di perpusnas sangat megah dan besar dan arsitektur dengan penataan ruangan yang indah dan rapi. Penataan yang rapi ini dikarenakan jumlah koleksinya yang begitu banyak, sehingga setiap lantai punya kegunaan masing – asing. Yang membuat pengunjung senang, pembuatan kartu anggota berlangsung sangat cepat sehingga tidak perlu menunggu hari kemudian untuk membuatnya, hanya cukup satu hari. Luar biasa bukan?. Yng berbeda dari perpusnas lagi, kami melihat ada toko bukunya loh. Di toko buku ini selain menjual buku – buku tertentu, juga dijual pernak – pernik seperti gantungan kunci, muk, agenda, bolpen dan lain – lain yang bertuliskan dan bercap Perpustakaan Nasional sehingga cocok dong buat dijadiin oleh – oleh. Perpusnas mempunyai 7 lantai. Pengen tahu ya ada apa aja sih di tiap lantainya?. 
Toko buku Perpustakaan Nasional di Lantai 1
keunikan pernak - pernik di toko buku Perpustakaan Nasionla disertai dengan lambangnya
Pembuatan kartu KTA yang cepat hanya mengantri beberapa jam
Sebenarnya begini, Di lantai pertama kami melihat ada ruang Informasi, Bagian pendaftaran anggota serta pembuatan kartu anggota, ada loker, ruang serial, ruang sekretariat lembaga sertifikasi pustakawan / LSP Pustakawan, hostspot area serta ada toko bukunya. Yang paling seru di lantai pertama ini ada pahatan dari batu putih yang membuat indah riuangan ini. Di bawah pahatan ini terdapat prasasti bertuliskan “Diresmikan oleh Presiden Soeharto” .  Seperti yang telah kudengar dari Pak Lasa HS bahwa perpusnas memang dibangun pada masa pemerintahan presiden Soeharto, ternyata terbukti dengan adanya prasasti tersebut. Setiap pengunjung yang ingin masuk diwajibkan untuk mengisi daftar hadir terlebih dahulu sebelum akhirnya mengambil kunci loker dengan menyerahkan KTP. 
Pengisian buku tamu di lantai 1
Hostspot area di lantai 1
Ruang locker untuk penitipan tas di lantai 1
Ruang sekretariat lembaga sertifikasi profesi pustakawan
Di Lantai dua, aku menemukan banyak sekali laci katalog yang berjajar rapi sehingga membuat tambah unik saja perpustakaan ini. Selain itu juga ada catalog buku yang tak kalah banyaknya dengan katalog kartu. Jangan salah! selain catalog kartu dan buku  juga ada jenis katalog OPAC. Inilah yang menjadi nilai lebih dari Perpustakaan Nasional. Perpustakaan ini mempunyai keunikan tersendiri dengan koleksi berbagai jenis catalog yang ada di sini selain membantu dalam menunjukkan letak koleksi juga memberikan pemahaman kepada pengunjung macam – macam katalog yang pernah ada di sana sebelum adanya kemajuan teknologi. Selain terdapat catalog – catalog, di lantai pertama ini juga terdapat layanan koleksi  majalah, surat kabar dan jurnal mutakhir. Di sini terdapat berbagai macam majalah – majalah baik itu yang ilmiah ataupun yang bersifat hiburan, lengkap pokoknya seperti majalah finance dan ekonomi, kartini, tempo, time, femina, trubus, fortuna, negarawan, forbes Asia billionaries, dan masih banyak lagi. Surat kabar juga sangat banyak sekali baik yang local maupun mancanegara. Jurnal – jurnalnya lengkap dan mutakhir. Yang menarik dari kleksi majalah, surat kabar dan jurnal disini karena kelengkapannya. Selain itu, di lantai ini juga terdapat koleksi peta dan lukisan / map and painting collections. Di ruang ini banyak sekali berbagai koleksi peta, lukisan – lukisan bersejarah dan penting di Indonesia.
Katalog buku
Katalog buku yang dibuka
Layanan koleksi majalah, surat kabar dan jurnal mutakhir
Berbagai peta di ruang koleksi peta dan lukisan
Berbagai koleksi lukisan di ruang koleksi peta dan lukisan
Katalog OPAC
Katalog kartu PBB lantai VD
Katalog kartu koleksi mikrofis lantai IVB

Katalog kartu untuk Buku Langka Lantai VB
Katalog kartu berbagai jenis koleksi
Di lantai tiga, terdapat layanan koleksi – koleksi social dan humanoria yang bernomor panggil 000 – 499. Di sana terdapat banyak sekali jenis koleksi dengan subjek ilmu social dan humanoria. Selain itu, di lantai ini juga terdapat layanan koleksi ilmu terapan dengan nomer panggil 500 - 599 . Di dalam ruangan koleksi terapan terdapat banyak sekali koleksi yang bersubjek tentang ilmu terapan tentang banyak hal. 
Ruang layanan Koleksi Ilmu terapan
Ruang Layanan Koleksi Ilmu Sosial dan Humanoria
Di Lantai empat terdapat layanan koleksi referensi, penelitian, tesis serta layanan audio – visual. Begitu masuk lantai empat kami langsung menuju ruang layanan audio - visual. Di dalam ruangan ini terdapat berbagai macam koleksi audio – visual yang bisa diakses lewat computer yang ada. Komputernya banyak sekali jumlahnya, sehingga apabila pengunjungnya banyakpun bisa tercukupi dengan cepat dan mudah. Selanjutnya kami masuk ke dalam ruang koleksi multimedia, penelitian dan tesis. Dalam ruangan ini sangat banyak koleksi referensi, penelitian dan tesis yang sangat banyak jumlahnya, sehingga bisa dijadikan sumber referensi yang baik dalam membuat artikel, skripsi, makalah, tesis dan lain – lain. 
Ruang layanan Koleksi Audio Visual
Komputer - komputer dalam ruang audio visual
Ruang koleksi referensi tesis dan disertasi
reading area dari ruangan koleksi referensi tesis dan disertasi
Untuk selanjutnya di lantai lima khusus digunakan untuk tandon. Ya seperti yag kita ketahui, di lantai ini berisi banyak koleksi yang ada di semua lantai, akan tetapi setiap satu judul koleksi terdapat satu yang disimpan di dalam tandon. Tujuannya agar apabila terjadi kehilangan masih ada di tendon. 

Lantai enam menyimpan banyak sekali koleksi – koleksi kuno jaman dahulu kala. Koleksinya sangat banyak  yang semuannya terlindungi dalam ruang berkaca. Kenapa ? Ya tujuannya supaya aman terlindungi dari suhu udara yang tidak teratur, kotoran, dan sentuhan tangan manusia yang  takutnya mengkontaminasi kertas yang banyak terkandung bahan – baahan kimia yang mudah rusak. 
Koleksi kuno yang langka yang dilindungi
Sama halnya dengan di lantai Enam, di  Lantai tujuh merupakan tempat penyimpanan koleksi langka akan tetapi letak perbedaannya pada jenisnya yaitu majalah langka jaman dahulu kala. Majalah tersebut sudah di katalogisasikan di OPAC . Aku kagum melihat majalah – majalah jaman Belanda yang ternyata masih ada sampai sekarang. Luar biasa bukan?.  Koleksi kuno jaman dahulu serta koleksi majalah langka ini merupakan keunikan tersendiri bagi Perpustakaan Nasional yang menyimpan majalah kuno di Indonesia, sehingga bisa ikut berupaya melestarikan aset budaya.
Contoh majalah kuno berjudul "Kitab Peringatan Hindia - Belanda"

Contoh majalah kuno berjudul "Senjata tradisional Indonesia"
Contoh majalah kuno berjudul "Nederland and Indie"
Oleh karena itu, Saya kira perpustakaan Nasional merupakan perpustakaan yang baik. Perpustakaan yang punya pengelolaan dan pelayanan yang baik. Selain itu, yang membuat unik dari perpustakaan ini mengoleksi koleksi yang terbaru dan juga yang kuno jaman dahulu. Sekian semoga penggambaran tentang Perpustakaan Nasional ini dapat bermanfaat bagi kalian semua. 

#IDKS
 

Kamis, 19 Maret 2015

Backpackers Librarian : Inilah Kisah Kami di Jakarta





Kisah ini berawal dari rencana divisi pengembangan profesi yang akan mengadakan study tour ke Perpustakaan Nasional yang ternyata gagal. Kami sering menyebut kami dengan nama “komplotan” yang teman lengket sekali yang selalu bersama kebetulan juga sama –sama anggota ALUS akhirnya merasa sangat kecewa akan hal itu. Apalagi setelah menyimak mata kuliah dari Bu Labibah yang waktu itu membicarakan tentang “Bagaimana  bisa kita mahasiswa Jurusan ilmu perpustakaan, gak tahu perpustakaan mana – mana”. Selain itu kami sangat terinspirasi dengan terpopulernya backpacker di zaman sekarang ini. Apalagi waktu itu Hana Rosila yang kerap di sapa Bunda Hana benar – benar menggebu – gebu memamerkan pengalaman backpackernya ke Malaysia dan Singapura. Dia juga sangat antusias dengan inisiatif  mengajukan rencana backpacker ke Jakarta kepada kami. Aku yang biasanya tak pernah tertarik oleh yang namanya pergi – pergi mengeluarkan uang, entah kenapa aku akhirnya setuju juga… hehe… Kebetulan saat itu aku habis dapet uang transport mengikuti magang, mungkin ini sudah takdir bahwa aku memang harus ke Jakarta, Ibu kota Indonesia. Senang rasanya seperti mimpi, bahkan seperti rencana gila dalam sesaat. 

Tidak berapa lama kemudian,teman – teman lain juga mau ikut rencana gila kami ini  ada Kunto, Fajar, Faiz, Bastian dan Yeni. Kami senang karena semakin banyak akan semakin baik, bukan?.  Ketika tiket kereta api sudah di depan mata, akhirnya kami membahas tempat apa aja ya yang akan kami dikunjungi?. Buat yang kaya gini mah, Desi ahlinya. Dia udah memberikan daftar – daftar tempat di Jakarta. Kita akhirnya mendiskusikan apa aja sih yang sekiranya cocok? Akhirnya dapet juga solusinya, kami akhirnya berencana mengunjungi Masjid Istiklal, Monas, Istana Presiden, Perpustakaan Istana, Monumen Nasional, Perpustakaan Nasional sebagai inti dari perjalanan kami, serta Kota Tua sebagai penutup. Kami berharap dengan adanya perjaanan ini membuat pengalaman yang berharga dan penuh pelajaran bagi kami .

Tibalah akhirnya hari dimana kami harus berangkat ke Jakarta. Kami sudah merencanakan waktunya dengan sangat teratur. Kami berkumpul di tempat Ririn sebelum akhirnya kami ke terminal. Sungguh tak terduga, ALUS memang sudah menjadi keluarga bagi kami. Mereka ikut mengantarkan kepergian kami ke stasiun Lempuyangan. Kebetulan sekali waktu itu Desi gak ada boncengan… Alhamdulillah jadi ada boncengan. Setelah kami sampai di terminal, ternyata memarkirkan motor di sana  itu satu jam membayar empat ribu rupiah, sedangkan kami kan sehari dua malam. Bagaimana dong? Akhirnya atas pertolongan teman – teman ALUS, motor dititipkan kepada mereka. Setelah semua sudah beres, kami berangkat dengan menaiki kereta “Gaya Baru” menuju Stasiun Pasar Senen. Ini pengalaman pertama aku naik kereta api. Yeah senangnya bersama teman – teman lagi.

Di kereta kami banyak mengalami hal – hal yang menarik dan tak mungkin terlupakan untuk kami. Kami bersepuluh duduk berdekatan di gerbong yang sama. Perjalanan kami lalui di dalam kereta selalu terpenuhi dengan canda tawa yang lepas dan tanpa ada rasa tak enak lagi. Kami bercanda tawa ria sambil makan camilan yang kami bawa . Apalagi kami mendapat teman baru di kereta, Kami sepanjang di kereta ditemani dengan kelucuan tenman baru kita, tiga anak kecil yang super imut dan gemesin. Canda dan tawa kami makin lepas, sampai – sampai kami tak sempat tidur dengan cukup.

Tak terasa kereta telah sampai pada tujuan kami, Pasar Senen pukul 1 malam. Aku senang sekali serasa mimpi bisa menginjakkan kaki di Jakarta. Kami yang sedari tadi mahrib belum sholat maghrib , berencana sholat jamak qasar bersama sholat isya’, akan tetapi masjid di Pasar Senen ternyata tutup dan baru akan dibuka pukul 4 pagi. Sehingga kami sholat menggunakan alas kertas Koran di lantai stasiun tempat banyak orang berlalu lalang. Itu merupakan salah satu pengalaman yang benar – benar tak terlupakan. Kami yang sedari tadi jugas serasa lapar,akhirnya dapat menyantap hidangan makan malam di bawah pohon di tanah yang digelari Koran dengan bekal yang kami bawa. Sebungkus buat berbanyak orang lagi.  Luar biasa sekali kan kami? hahaha… jadi kaya gak percaya deh kalo inget kejadian itu… benar – benar jiwa backpacker sejati.


Dari  Stasiun Pasar Senen, Sekitar jam 3 Kami menuju ke Masjid Istiklal, Kami dengan berjalan kaki bersama berjalan menjauh dari stasiun mencari halte bus atrium. Kami mencari halte tersebut dengan menggunakan GPS. Akan tetapi, Eh gak ketemu haltenya. Padahal tempatnya udah benar daerah atrium. Akhirnya kami bertanya kepada satpam hotel dekat situ dimana masjid istiklal berada. Bapak Stpam mengatakan bahwa masjid idtiklal tidak jauh dari daerah itu serta menunjukkan arah menuju masjid istiklal. Dengan rasa takut, kami bersepuluh berjalan dengan cukup cepat menuju MAsjid Istiklal. Setelah sampai aku baru sadar ternyata jauh juga tempatnya, akan tetapi gak nyangka kami bisa melaluinya. Namanya juga backpacker ya harus prihatin dan penuh semangat pantang menyerah… haha


Kami tiba di masjid istiklal sekitar jam 4 pagi. Di sana luar biasa sekali, besar banget mewah dan indah. Di depan masjid istiklal ada bangunan gereja ketedral yang  tak kalah megah dan keindahannya. di depan dan sekeliling bangunan tersebut terdapat banyak pohon yang memperindah pemandangan masjid istiklal. Selain itu dinding masjid istiklal sangat tinggi menjuklang ke langit. Menara masjidnya juga sangat tinggi. Itulah yang kulihat dari depan. Ketika kami masuk ke dalam, maka sebelumnya kita harus melepas alas kaki dan menitipkannya di loker dengan dijaga oleh petugas di sana. Oleh petugas kami ditunjukkan pula dimana tempat mandi dan wudlunya. Saat kami berjalan menuju tempat wudlu, kami menemukan sebuah ruangan bertuliskan “Perpustakaan Madrasah Istiklal : melayani  siswa madrasah sekoalah, orang tua siswa, mahasiswa serta masyarakat umum. Luar biasa ! jadi bangga menjadi mahasiswa Ilmu Perpustakaan yang ternyata masa depannya di tunggu di mana – mana. Setelah aku mandi dan wudlu, aku sholat. Sebelumnya aku menitipkan tas dahulu. Kami sempat kebingungan karena saking luasnya bangunannya jadi bingung mana tempat solatnya…hehe…

Setelah dari masjid, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Monas, kami dengan semangat berjalan bersama menyusuri jalan demi jalan hingga akhirnya sekitar jam 6 kami sampai di Monas atau kepanjangannya adalah  “ Tugu Monumen Nasional”. Seperti yang sering kulihat dibuku – buku. Monas memang keren. Bangganya bisa melihat tempat yang menjadi icon dari kota Jakarta ini. 


Setelah puas menikmati icon kota Jakarta ini, kami melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat, walaupun semalaman kurang tidur dengan ngantuk – ngantuk kami keluar pintu gerbang Monas. Kami sempat menemukan Istana Presiden sebagai salah satu dari rencana yang akan kami kunjungi, akan tetapi kami tidak bisa masuk. Ya sudahlah, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kelagi menyusuri jalan demi jalan. Di tengah perjalanan kami melihat bis tingkat yang kata orang yang kami tanyai Bis itu keliling Jakarta melewati bundaran HI. Kami benar – benar ingin naik itu. Bis itu kurang lebih seperti yang ada di Solo. Gimana gak tertarik kan bisa itu bis TJ City Tour, kami bisa keliling Jakarta dengan gratis dong… hehe..


Ada cerita lucu dari peristiwa ini. Pengen tahu kan? Begini , kami udah sekitar setengah jam menunggu bis tingkat itu melewati halte tempat kami menunggu. Akan tetapi, bukannya bis tingkat yang lewat, justru TJ City Tour yang lain yang bukan tingkat. Karena beberapa kali yang lewat hanya bis yang bukan tingkat, karena kami mulai bosan akhirnya kami memilih menaiki bis ini , Itung – itung bisa buat berteduh dari panas sang mentari bahkan bisa sambil menikmati keliling Jakarta. Tapi kami juga gak nyesel naik ini, ini juga lewat bundaran HI . Alhamdulillah bisa keliling Jakarta. Tiba – tiba pas kami lagi menikmati pemandangan kota Jakarta, eh malah Ririn tiba – tiba ngigo dari tidurnya nyuruh –nyuruh buat keluar. Tapi entah kenapa semua ikut turun. Kemudian supir bis menyuruh kami masuk lagi karena kami memang belum sampai. Lalu ditanyailah mau kemana tujuan kita. Kita banyak ngobrol dengan bapak sopir. Kami akhirnya turun di suatu halte, Tak disangka ternyata kami melihat bis TJ tingkat melewati situ. Kami senang dan segera memasukinya. Kami menikmati perjalanan ini dengan senang. Impian buat naik bis tingkat terwujud akhirnya.


Bis yang kami tumpangi akhirnya sampai di Monumen Nasional sekitar pukul 11 pagi. Di Monumen Nasional benar – benar sangat mengagumkan. Monumen ini memang merupakan sebuah museum yang sangat besar dan megah berisi semu hasil kebudayaan seluruh Indonesia bahkan Negara lain sekalipun yang ditemukan di Indonesia. Ketika kami masuk, kami melihat patung – patung dan arca berbagai dewa yang banyak sekali kemudian kami melihat banyak jenis – jenis kani di Indonesia dan Negara lain yang di temukan di Indonesia seperti songket, tenun, kain adat bali, Lombok, Riau dan lain – lain. Kemudian kami juga melihat gerabah dan keramik dari Indonesia dan dalam negeri seperti Myanmar, Thailand, Cina, Jepang, dan lain – lain. Ada pula peralatan kuno jaman dahulu kala. Yang paling berkesan Bahkan ada pula perhiasan dan gamelan jaman dulu di seluruh Nusantara. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa dijelaskan satu persatu. Dengan mengunjungi museum ini kita bisa benar – benar mengerti banyak informasi tentang budaya Indonesia, sehingga mendidik, inspiratif banget bahkan bisa tambah cinta negeri Indonesia tercinta ini. Kami juga senang karena setelah dilihat dengan seksama, di setiap benda – benda bersejarah ini ada katalognya serta dicantumkan pula nomer inventarisnya. Ini peluang bagus buat sarjana ilmu perpustakaan buat kedepannya kan?


Setelah kami selesai berputar –putar Museum Nasional kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju perpustakaan Nasional. Kami menaiki Trans Jakarta. Berbeda dengan Trans Jogja, di Trans Jakarta banyak sekali jumlahnya dibandingkan di Jogja, akan tetapi penumpangkan tak kalah banyak jumlahnya bahkan sampai penuh banget, sampai – sampai kami terjepit di halte maupun ketika kami di bis. Akan tetapi ada yang bagus di sana terdapat peron- peron tersendiri sehingga lebih teratur, setiap peron pengantri menunggu bis dengan arah yang sama. Dan yang lebih bikin kagum, disetiap peron terdapat pemisah antara antrian wanita dan pria sehingga menjadi lebih rapi.

Setelah kami sampai dengan menaiki bis Trans Jakarta, kami sampai di Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba ketika pukul jam 12 siang.  Akhirnya bisa mengunjungi juga tempat di mana sering disebut – sebut dalam buku bahkan dosen – dosen. Di perpusnas mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan perpustakaan yang lain, di perpusnas sangat rapid an pembuatan kartu anggota sangat cepat. Perpusnas mempunyai 7 lantai. Pengen tahu ya ada apa aja sih di tiap lantainya?. Sebenarnya begini, Di lantai pertama aku melihat ada ruang Informasi, Bagian pendaftaran anggota serta pembuatan kartu anggota, ada loker, ruang serial, kantor administrasi, serta ada tok bukunya. Yang paling seru di lantai pertama ini ada pahatan dari batu putih yang membuat indah riuangan ini. Di bawah pahatan ini terdapat prasasti bertuliskan “Diresmikan oleh Presiden Soeharto” . Di Lantai dua, aku menemukan banyak sekali laci katalog kartu yang berjajar rapi sehingga membuat tambah unik saja perpustakaan ini. Jangan salah! selain catalog kartu juga ada catalog OPAC. Di lantai tiga, terdapat koleksi – koleksi humaniora. Di Lantai empat terdapat layanan koleksi referensi, penelitian, tesis serta layanan audio – visual. Untuk selanjutnya di lantai lima khusus digunakan untuk tendon. Dan di Lantai enam menyimpan banyak sekali koleksi – koleksi kuno jaman dahulu yang terlindungi dalam ruang berkaca, sehingga aman. Yang terakhir, Di Lantai tujuh merupakan tempat penyimpanan koleksi majalah langka jaman dahulu kala. Majalah tersebut sudah di katalogisasikan di OPAC . Aku kagum melihat majalah – majalah jaman Belanda yang ternyata masih ada sampai sekarang. Luar biasa bukan negara kita punya perpustakaan seperti ini. 


Setelah mengunjung perpusnas, Kami melanjutkan perjalanan menuju stasiun Manggarai. Sangat jauh memang, akan tetapi kami bersama bisa melaluinya. Ketika sampai di stasiun manggarai , kami membeli tiket KLJ. KLJ merupakan kereta listrik yang jika kita masuk kedalamnya bentuk dsain tempat duduknya mirip dengan bis Trans Jakarta. Kami naik KLJ hingga sampai di Kota Tua. pasti udah gak asing lagi kan dengan kota tua. Kota ini merupakan kota dengan gedung – gedung tua Eropa jaman pemerintahan Hindia – Belanda. Benar – benar tua pokoknya. Kebetulan disana ada banyak pertunjukkan yang menghibur. Pertunjukkan disana misalnya ada pantomime, ondel – ondel, seseorang yang pura – pura jadi patung serta pertunjukkan lainnya.  Bahkan di sana ada banyak orang berjualan bagaikan pasar. Apapun barang yang khas Jakarta ada di sana, cocok banget kalo mau beli oleh – oleh buat kita. Disana kami benar – benar menikmati pertunjukkan di sana serta melihat – lihat oleh – oleh barangkali ada yang cocok. Tapi tetap tidak bisa dipungkiri gedung – gedung tua di Kota Tua tidak kalah indahnya.


Setelah selesai dan puas di Kota Tua, karena waktu sudah menjelang fajar, sehingga kami mulai meninggalkan kota Jakarta. Kami pergi naik KLJ menuju Pasar Senen. Akan tetapi karena terjadi sesuatu kecelakaan, yaitu empat orang dari kami termasuk aku tertinggal kereta, sehingga harus naik kereta yang lain, sehingga teman – teman yang lain turun di Jatinegara menunggu kami. Setelah kami sampai di Jatinegara, kami melanjutkan perjalanan dengan KLJ menuju Stasiun Pasar Senen. Dari Stasiun Pasar senen, setelah sekitar tiga jam menunggu waktu keberangkatan, kami akhirnya benar – benar telah meninggalkan Jakarta menuju Stasiun Lempuyangan dengan menggunakan Kereta Api” Progo”. 

Laman