
Kisah ini berawal dari
rencana divisi pengembangan profesi yang akan mengadakan study tour ke
Perpustakaan Nasional yang ternyata gagal. Kami sering menyebut kami dengan
nama “komplotan” yang teman lengket sekali yang selalu bersama kebetulan juga sama
–sama anggota ALUS akhirnya merasa sangat kecewa akan hal itu. Apalagi setelah
menyimak mata kuliah dari Bu Labibah yang waktu itu membicarakan tentang
“Bagaimana bisa kita mahasiswa Jurusan
ilmu perpustakaan, gak tahu perpustakaan mana – mana”. Selain itu kami sangat
terinspirasi dengan terpopulernya backpacker di zaman sekarang ini. Apalagi
waktu itu Hana Rosila yang kerap di sapa Bunda Hana benar – benar menggebu –
gebu memamerkan pengalaman backpackernya ke Malaysia dan Singapura. Dia juga
sangat antusias dengan inisiatif mengajukan rencana backpacker ke Jakarta
kepada kami. Aku yang biasanya tak pernah tertarik oleh yang namanya pergi –
pergi mengeluarkan uang, entah kenapa aku akhirnya setuju juga… hehe… Kebetulan
saat itu aku habis dapet uang transport mengikuti magang, mungkin ini sudah
takdir bahwa aku memang harus ke Jakarta, Ibu kota Indonesia. Senang rasanya
seperti mimpi, bahkan seperti rencana gila dalam sesaat.
Tidak berapa lama kemudian,teman
– teman lain juga mau ikut rencana gila kami ini ada Kunto, Fajar, Faiz, Bastian dan Yeni. Kami
senang karena semakin banyak akan semakin baik, bukan?. Ketika tiket kereta api sudah di depan mata,
akhirnya kami membahas tempat apa aja ya yang akan kami dikunjungi?. Buat yang
kaya gini mah, Desi ahlinya. Dia udah memberikan daftar – daftar tempat di
Jakarta. Kita akhirnya mendiskusikan apa aja sih yang sekiranya cocok? Akhirnya
dapet juga solusinya, kami akhirnya berencana mengunjungi Masjid Istiklal,
Monas, Istana Presiden, Perpustakaan Istana, Monumen Nasional, Perpustakaan
Nasional sebagai inti dari perjalanan kami, serta Kota Tua sebagai penutup. Kami
berharap dengan adanya perjaanan ini membuat pengalaman yang berharga dan penuh
pelajaran bagi kami .
Tibalah akhirnya hari
dimana kami harus berangkat ke Jakarta. Kami sudah merencanakan waktunya dengan
sangat teratur. Kami berkumpul di tempat Ririn sebelum akhirnya kami ke
terminal. Sungguh tak terduga, ALUS memang sudah menjadi keluarga bagi kami.
Mereka ikut mengantarkan kepergian kami ke stasiun Lempuyangan. Kebetulan
sekali waktu itu Desi gak ada boncengan… Alhamdulillah jadi ada boncengan.
Setelah kami sampai di terminal, ternyata memarkirkan motor di sana itu satu jam membayar empat ribu rupiah,
sedangkan kami kan sehari dua malam. Bagaimana dong? Akhirnya atas pertolongan
teman – teman ALUS, motor dititipkan kepada mereka. Setelah semua sudah beres,
kami berangkat dengan menaiki kereta “Gaya Baru” menuju Stasiun Pasar Senen.
Ini pengalaman pertama aku naik kereta api. Yeah senangnya bersama teman –
teman lagi.
Di kereta kami banyak
mengalami hal – hal yang menarik dan tak mungkin terlupakan untuk kami. Kami
bersepuluh duduk berdekatan di gerbong yang sama. Perjalanan kami lalui di dalam
kereta selalu terpenuhi dengan canda tawa yang lepas dan tanpa ada rasa tak
enak lagi. Kami bercanda tawa ria sambil makan camilan yang kami bawa . Apalagi
kami mendapat teman baru di kereta, Kami sepanjang di kereta ditemani dengan
kelucuan tenman baru kita, tiga anak kecil yang super imut dan gemesin. Canda
dan tawa kami makin lepas, sampai – sampai kami tak sempat tidur dengan cukup.
Tak terasa kereta telah
sampai pada tujuan kami, Pasar Senen pukul 1 malam. Aku senang sekali serasa
mimpi bisa menginjakkan kaki di Jakarta. Kami yang sedari tadi mahrib belum
sholat maghrib , berencana sholat jamak qasar bersama sholat isya’, akan tetapi
masjid di Pasar Senen ternyata tutup dan baru akan dibuka pukul 4 pagi.
Sehingga kami sholat menggunakan alas kertas Koran di lantai stasiun tempat
banyak orang berlalu lalang. Itu merupakan salah satu pengalaman yang benar –
benar tak terlupakan. Kami yang sedari tadi jugas serasa lapar,akhirnya dapat
menyantap hidangan makan malam di bawah pohon di tanah yang digelari Koran
dengan bekal yang kami bawa. Sebungkus buat berbanyak orang lagi. Luar biasa sekali kan kami? hahaha… jadi kaya
gak percaya deh kalo inget kejadian itu… benar – benar jiwa backpacker sejati.

Dari Stasiun Pasar Senen, Sekitar jam 3 Kami menuju
ke Masjid Istiklal, Kami dengan berjalan kaki bersama berjalan menjauh dari
stasiun mencari halte bus atrium. Kami mencari halte tersebut dengan
menggunakan GPS. Akan tetapi, Eh gak ketemu haltenya. Padahal tempatnya udah
benar daerah atrium. Akhirnya kami bertanya kepada satpam hotel dekat situ dimana
masjid istiklal berada. Bapak Stpam mengatakan bahwa masjid idtiklal tidak jauh
dari daerah itu serta menunjukkan arah menuju masjid istiklal. Dengan rasa
takut, kami bersepuluh berjalan dengan cukup cepat menuju MAsjid Istiklal.
Setelah sampai aku baru sadar ternyata jauh juga tempatnya, akan tetapi gak
nyangka kami bisa melaluinya. Namanya juga backpacker ya harus prihatin dan
penuh semangat pantang menyerah… haha

Kami tiba di masjid
istiklal sekitar jam 4 pagi. Di sana luar biasa sekali, besar banget mewah dan
indah. Di depan masjid istiklal ada bangunan gereja ketedral yang tak kalah megah dan keindahannya. di depan
dan sekeliling bangunan tersebut terdapat banyak pohon yang memperindah
pemandangan masjid istiklal. Selain itu dinding masjid istiklal sangat tinggi
menjuklang ke langit. Menara masjidnya juga sangat tinggi. Itulah yang kulihat
dari depan. Ketika kami masuk ke dalam, maka sebelumnya kita harus melepas alas
kaki dan menitipkannya di loker dengan dijaga oleh petugas di sana. Oleh
petugas kami ditunjukkan pula dimana tempat mandi dan wudlunya. Saat kami
berjalan menuju tempat wudlu, kami menemukan sebuah ruangan bertuliskan
“Perpustakaan Madrasah Istiklal : melayani
siswa madrasah sekoalah, orang tua siswa, mahasiswa serta masyarakat
umum. Luar biasa ! jadi bangga menjadi mahasiswa Ilmu Perpustakaan yang
ternyata masa depannya di tunggu di mana – mana. Setelah aku mandi dan wudlu,
aku sholat. Sebelumnya aku menitipkan tas dahulu. Kami sempat kebingungan
karena saking luasnya bangunannya jadi bingung mana tempat solatnya…hehe…
Setelah dari masjid,
kami melanjutkan perjalanan kami menuju Monas, kami dengan semangat berjalan
bersama menyusuri jalan demi jalan hingga akhirnya sekitar jam 6 kami sampai di
Monas atau kepanjangannya adalah “ Tugu
Monumen Nasional”. Seperti yang sering kulihat dibuku – buku. Monas memang
keren. Bangganya bisa melihat tempat yang menjadi icon dari kota Jakarta ini.

Setelah puas menikmati
icon kota Jakarta ini, kami melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat,
walaupun semalaman kurang tidur dengan ngantuk – ngantuk kami keluar pintu
gerbang Monas. Kami sempat menemukan Istana Presiden sebagai salah satu dari
rencana yang akan kami kunjungi, akan tetapi kami tidak bisa masuk. Ya
sudahlah, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kelagi menyusuri jalan demi
jalan. Di tengah perjalanan kami melihat bis tingkat yang kata orang yang kami
tanyai Bis itu keliling Jakarta melewati bundaran HI. Kami benar – benar ingin
naik itu. Bis itu kurang lebih seperti yang ada di Solo. Gimana gak tertarik
kan bisa itu bis TJ City Tour, kami bisa keliling Jakarta dengan gratis dong…
hehe..

Ada cerita lucu dari
peristiwa ini. Pengen tahu kan? Begini , kami udah sekitar setengah jam
menunggu bis tingkat itu melewati halte tempat kami menunggu. Akan tetapi,
bukannya bis tingkat yang lewat, justru TJ City Tour yang lain yang bukan
tingkat. Karena beberapa kali yang lewat hanya bis yang bukan tingkat, karena
kami mulai bosan akhirnya kami memilih menaiki bis ini , Itung – itung bisa buat
berteduh dari panas sang mentari bahkan bisa sambil menikmati keliling Jakarta.
Tapi kami juga gak nyesel naik ini, ini juga lewat bundaran HI . Alhamdulillah
bisa keliling Jakarta. Tiba – tiba pas kami lagi menikmati pemandangan kota
Jakarta, eh malah Ririn tiba – tiba ngigo dari tidurnya nyuruh –nyuruh buat
keluar. Tapi entah kenapa semua ikut turun. Kemudian supir bis menyuruh kami
masuk lagi karena kami memang belum sampai. Lalu ditanyailah mau kemana tujuan
kita. Kita banyak ngobrol dengan bapak sopir. Kami akhirnya turun di suatu
halte, Tak disangka ternyata kami melihat bis TJ tingkat melewati situ. Kami
senang dan segera memasukinya. Kami menikmati perjalanan ini dengan senang.
Impian buat naik bis tingkat terwujud akhirnya.
Bis yang kami tumpangi
akhirnya sampai di Monumen Nasional sekitar pukul 11 pagi. Di Monumen Nasional
benar – benar sangat mengagumkan. Monumen ini memang merupakan sebuah museum
yang sangat besar dan megah berisi semu hasil kebudayaan seluruh Indonesia
bahkan Negara lain sekalipun yang ditemukan di Indonesia. Ketika kami masuk,
kami melihat patung – patung dan arca berbagai dewa yang banyak sekali kemudian
kami melihat banyak jenis – jenis kani di Indonesia dan Negara lain yang di
temukan di Indonesia seperti songket, tenun, kain adat bali, Lombok, Riau dan
lain – lain. Kemudian kami juga melihat gerabah dan keramik dari Indonesia dan
dalam negeri seperti Myanmar, Thailand, Cina, Jepang, dan lain – lain. Ada pula
peralatan kuno jaman dahulu kala. Yang paling berkesan Bahkan ada pula
perhiasan dan gamelan jaman dulu di seluruh Nusantara. Dan masih banyak lagi
yang tidak bisa dijelaskan satu persatu. Dengan mengunjungi museum ini kita
bisa benar – benar mengerti banyak informasi tentang budaya Indonesia, sehingga
mendidik, inspiratif banget bahkan bisa tambah cinta negeri Indonesia tercinta
ini. Kami juga senang karena setelah dilihat dengan seksama, di setiap benda –
benda bersejarah ini ada katalognya serta dicantumkan pula nomer inventarisnya.
Ini peluang bagus buat sarjana ilmu perpustakaan buat kedepannya kan?

Setelah kami selesai
berputar –putar Museum Nasional kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju
perpustakaan Nasional. Kami menaiki Trans Jakarta. Berbeda dengan Trans Jogja,
di Trans Jakarta banyak sekali jumlahnya dibandingkan di Jogja, akan tetapi
penumpangkan tak kalah banyak jumlahnya bahkan sampai penuh banget, sampai –
sampai kami terjepit di halte maupun ketika kami di bis. Akan tetapi ada yang
bagus di sana terdapat peron- peron tersendiri sehingga lebih teratur, setiap
peron pengantri menunggu bis dengan arah yang sama. Dan yang lebih bikin kagum,
disetiap peron terdapat pemisah antara antrian wanita dan pria sehingga menjadi
lebih rapi.
Setelah kami sampai
dengan menaiki bis Trans Jakarta, kami sampai di Perpustakaan Nasional di Jalan
Salemba ketika pukul jam 12 siang. Akhirnya
bisa mengunjungi juga tempat di mana sering disebut – sebut dalam buku bahkan
dosen – dosen. Di perpusnas mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan
perpustakaan yang lain, di perpusnas sangat rapid an pembuatan kartu anggota
sangat cepat. Perpusnas mempunyai 7 lantai. Pengen tahu ya ada apa aja sih di
tiap lantainya?. Sebenarnya begini, Di lantai pertama aku melihat ada ruang
Informasi, Bagian pendaftaran anggota serta pembuatan kartu anggota, ada loker,
ruang serial, kantor administrasi, serta ada tok bukunya. Yang paling seru di
lantai pertama ini ada pahatan dari batu putih yang membuat indah riuangan ini.
Di bawah pahatan ini terdapat prasasti bertuliskan “Diresmikan oleh Presiden
Soeharto” . Di Lantai dua, aku menemukan banyak sekali laci katalog kartu yang
berjajar rapi sehingga membuat tambah unik saja perpustakaan ini. Jangan salah!
selain catalog kartu juga ada catalog OPAC. Di lantai tiga, terdapat koleksi –
koleksi humaniora. Di Lantai empat terdapat layanan koleksi referensi,
penelitian, tesis serta layanan audio – visual. Untuk selanjutnya di lantai
lima khusus digunakan untuk tendon. Dan di Lantai enam menyimpan banyak sekali
koleksi – koleksi kuno jaman dahulu yang terlindungi dalam ruang berkaca,
sehingga aman. Yang terakhir, Di Lantai tujuh merupakan tempat penyimpanan
koleksi majalah langka jaman dahulu kala. Majalah tersebut sudah di
katalogisasikan di OPAC . Aku kagum melihat majalah – majalah jaman Belanda
yang ternyata masih ada sampai sekarang. Luar biasa bukan negara kita punya
perpustakaan seperti ini.

Setelah mengunjung
perpusnas, Kami melanjutkan perjalanan menuju stasiun Manggarai. Sangat jauh
memang, akan tetapi kami bersama bisa melaluinya. Ketika sampai di stasiun
manggarai , kami membeli tiket KLJ. KLJ merupakan kereta listrik yang jika kita
masuk kedalamnya bentuk dsain tempat duduknya mirip dengan bis Trans Jakarta.
Kami naik KLJ hingga sampai di Kota Tua. pasti udah gak asing lagi kan dengan
kota tua. Kota ini merupakan kota dengan gedung – gedung tua Eropa jaman
pemerintahan Hindia – Belanda. Benar – benar tua pokoknya. Kebetulan disana ada
banyak pertunjukkan yang menghibur. Pertunjukkan disana misalnya ada pantomime,
ondel – ondel, seseorang yang pura – pura jadi patung serta pertunjukkan
lainnya. Bahkan di sana ada banyak orang
berjualan bagaikan pasar. Apapun barang yang khas Jakarta ada di sana, cocok
banget kalo mau beli oleh – oleh buat kita. Disana kami benar – benar menikmati
pertunjukkan di sana serta melihat – lihat oleh – oleh barangkali ada yang
cocok. Tapi tetap tidak bisa dipungkiri gedung – gedung tua di Kota Tua tidak
kalah indahnya.

Setelah selesai dan
puas di Kota Tua, karena waktu sudah menjelang fajar, sehingga kami mulai
meninggalkan kota Jakarta. Kami pergi naik KLJ menuju Pasar Senen. Akan tetapi
karena terjadi sesuatu kecelakaan, yaitu empat orang dari kami termasuk aku
tertinggal kereta, sehingga harus naik kereta yang lain, sehingga teman – teman
yang lain turun di Jatinegara menunggu kami. Setelah kami sampai di Jatinegara,
kami melanjutkan perjalanan dengan KLJ menuju Stasiun Pasar Senen. Dari Stasiun
Pasar senen, setelah sekitar tiga jam menunggu waktu keberangkatan, kami
akhirnya benar – benar telah meninggalkan Jakarta menuju Stasiun Lempuyangan
dengan menggunakan Kereta Api” Progo”.